Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label marketing

Sukses Bangun Bisnis dengan Digital Marketing

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya terkejut dengan gaya marketing Rumah Makan Pringsewu. RM Pringsewu membangun beberapa restoran di sepanjang pantura, masing-masing berjarak sekira 100 kilometer. Di masa libur lebaran, dimana pemudik dari Jabotabek tumpah ke Jawa, RM Pringsewu membuat kampanye yang luar biasa. Sebagai informasi, pada saat itu jalan tol baru sebatas sampai Cikampek, selanjutnya ke arah timur pemudik harus melewati jalan pantura. RM Pringsewu sudah memasang banner mulai pemudik keluar Cikampek, sepanjang pantura untuk restorannya yang berada di Indramayu. Setelah melewati Indramayu, RM Pringsewu kembali pasang banner sepanjang pantura untuk restorannya yang berada di Brebes. Setelah lewat Brebes, banner kembali berderet sepanjang pantura untuk restoran yang berada di Comal, dan seterusnya. Praktis sepanjang pantura dari Cikampek sampai Jogja dipenuhi oleh banner RM Pringsewu. Berbeda dengan era sebelumnya, generasi digital saat ini punya cara yang berbeda untuk memba...

Jangan Jual Harga Murah

"Pak Yusuf, harga Indihome-nya dimurahin dong, susah nich jualnya...". Demikian pernyataan pertama yang saya dengar dari tim sales Indihome. Kebetulan siang ini, secara tidak sengaja, kami kumpul bersama mereka yang sedang mendapat briefing bulanan dari Supervisornya. Mendengar pertanyaan tersebut, saya merasa tertarik, akhirnya saya duduk dan siap untuk sharing tentang pricing kepada tim sales Indihome. Sebagai informasi, sejak dua bulan lalu, kami, Telkom Lampung, menetapkan, hanya menjual Indihome dengan paket premium. Kami tidak lagi menjual Indihome Paket Hemat, Paket Murah dan sejenisnya. Hal inilah yang sering dikeluhkan oleh beberapa tim sales Indihome. Karena inilah, saya merasa tertarik untuk menjelaskan kepada mereka, bagaimana cara terbaik menetapkan harga produk. Setelah duduk dan menyampaikan salam kepada mereka, saya ajukan pertanyaan kepada seorang yang duduk terdekat dengan saya. "Kamu pakai hape merk apa?". Dia menjawab, "Öppo". Saya tany...

Uplifting Service

Buku Uplifting Service menjadi rujukan banyak konsultan global, juga menjadi rujukan bagi banyak perusahaan, Termasuk Telkom Indonesia. Buku ini sebetulnya sudah cukup lama, terbit pertama tahun 2012, hasil tulisan Ron Kaufman (RK). Namun buku ini mulai populer di Indonesia sekitar tahun 2015. Buku setebal 300 halaman ini terkenal melalui teori The Six Level of Service , yang banyak di adopsi banyak konsultan dan perusahaan. Isi utama buku ini adalah pedoman lengkap, bagaimana sebuah organisasi dapat mengangkat kualitas pelayanan (service) ke level yang lebih tinggi. Service sendiri di definisikan oleh RK sebagai berikut, service is talking action to create value for someone else . Pedoman tersebut di bagi menjadi lima bagian, yaitu Why, Lead, Build, Learn dan Drive. Why . adalah filosofi, yang mendasar keinginan organisasi untuk mengangkat level pelayanannya. Organisasi harus punya alasan kuat, karena tanpanya, pasti tidak akan berhasil. Beberapa contoh alasan adalah: kenap...

Sukses Menjual dengan 4P

Kami meyakini, kuantitas dan kualitas marketer adalah kunci utama percepatan penetrasi broadband. Kenapa? Karena operator tidak mungkin membangun jaringan fixed broadband yang menjangkau seluruh coverage seperti halnya seluler. Operator pasti akan memilih coverage yang layak secara bisnis dan memberikan keuntungan yang optimum. Artinya, coverage fixed broadband akan selalu terbatas, dan itu artinya, push channel, seperti marketer, akan selalu menjadi channel terkuat. Berangkat dari keyakinan tersebut, untuk mempercepat penetrasi fixed broadband, kami melakukan rekrut marketer dalam jumlah masif. Pagi ini, puluhan calon marketer masuk kelas training perdana, sebelum mereka diterjunkan ke lapangan. Saya mendapat kesempatan pertama untuk memberi bekal kepada mereka, bagaimana mencapai sukses menjual fixed broadband. Saya sampaikan 4 hal penting yang perlu mereka bangun untuk menggapai sukses menjual. Agar mudah mengingat, saya sebut saja 4P: Pribadi, Passion, Produk, Pertemanan...

Mbak Siti Pulang Kampung

Sepuluh tahun lalu saya bangun rumah di sebuah komplek di Pondokgede. Saya krasan tinggal di perumahan tersebut, karena suasana dan kerukunan warganya. Salah satu yang terkesan sampai sekarang adalah penjual sayur Mbak Siti. Dia berasal dari kota asalku, sehingga wajar, dia tahu betul jenis masakan dan bumbu yang dibutuhkan untuk masakan kampung halaman. Istriku menjadi pelanggan tetap Mbak Siti. Salah satu alasannya, karena sering dapat bonus berupa resep masakan kampung halaman. Maklum istriku tidak jago masak, di waktu itu. Padahal, selain Mbak Siti, masih ada pedagang sayur lain yang lebih lengkap dagangannya dan terlihat lebih laris. Menjelang lebaran tahun lalu, Mbak Siti datang ke rumah dan pamitan, "ibu, saya mau pamit pulang kampung, dan tidak kembali dagangan sayur". Sontak istriku kaget, dan nanya, "Lho, kenapa Mbak?". Mbak Siti menjawab, "sudah nggak kuat, bu. Barang-barang di Jakarta makin mahal, untung sayuran sudah nggak cukup lagi...

Paket Pemenangan Kompetisi

Samsung dan chipset Snapdragon Setahun lalu tersebar berita, Samsung bakal memborong Snapdragon 835 untuk mempersenjatai jagoan terbarunya Galaxy S8. Dampak dari aksi Samsung ini, banyak produsen flagship harus gigit jari, karena harus menunggu pasokan berikutnya, alias menunda peluncuran flagship. Jika tidak mau menunda peluncuran, mereka terpaksa menggunakan chipset lama. Salah satu produsen yang mengalami nasib serupa adalah (mungkin) LG. Flagship LG G6 yang menjadi andalan, terpaksa harus menggunakan chipset Snapdragon 825. Padahal LG G6 telah dilengkapi dengan fitur-fitur terbaru, sayang seribu sayang, chipsetnya menggunakan generasi lama. Padahal, untuk ponsel flagship, chipset adalah senjata utama. Jika Anda menjadi executive LG, bisa dibayangkan, bagaimana jengkelnya menerima kenyataan seperti itu. Kejengkelan yang sama tentu dirasakan oleh produsen flagship yang lain seperti HTC, Sony, Xiaomi dan seterusnya. Minggu ini, tersiar berita di media, Samsung kem...

Kembangkan Organisasi melalui Pemimpinnya

Satu-satunya cara untuk mengembangkan organisasi Anda adalah dengan mengembangkan pemimpin yang menjalankannya. Begitulah salah satu kalimat yang baru saja saya baca dari buku The 360 Leader, John C. Maxwell. Kalimat tersebut betul-betul menyentuh pikiran saya. Karenanya, saya merasa perlu merenungkan dalam-dalam makna kalimat tersebut untuk beberapa menit. Akhirnya pikiran saya berhenti pada pekerjaan yang saya tangani saat ini. Sebagai pemimpin unit, saat ini saya sedang berusaha keras melipatgandakan pendapatan dan penjualan, untuk mengejar target perusahaan. Berbagai upaya sudah saya lakukan, tapi sejauh ini masih jauh dari memuaskan. Saya telah melipatgandakan jumlah titik penjualan, namun hasilnya tidak berlipat. Beberapa titik penjualan cukup produktif, namun sebagian besar lainnya justru buang-buang uang. Setelah merenungi kalimat di atas, saya tersadar, memang jumlah titik penjualan telah bertambah banyak, namun orang-orang hebat masih relatif sama. Karenanya wajar, jika ...

Hanya Karena Senyum

“Adik naik angkot ya?”, pinta saya kepada anak kedua. “Tunggu bapak aja”, jawabnya. Saya meminta lagi “nanti sekolahnya terlambat lho, bapak mau nambal ban, kempes tuh, kena paku”. Anak saya tetap terdiam, tanda dia tidak mau naik angkot. Akhirnya kuputuskan segera ke bengkel tamban ban, ganti dan antar anak ke sekolah. Sambil berharap semoga tidak terlalu lama, agar anak tidak terlambat. Tidak seberapa jauh mobil saya berjalan, saya temukan bengkel tamban ban. “Pak, tolong ganti bannya”, saya meminta. Tanpa sepatah kata pun, si Bengkel menuju roda mobil yang memang terlihat kempes. Sambil melepas roda, dia berkata agak ketus, “mana bannya”. Saya jawab “ini”, sambil menunjuk tempat roda di bagasi belakang. Dari intonasi bicaranya, saya merasa dia meminta saya yang angkat roda serep dan memberikan kepadanya. Tapi sengaja tidak saya lakukan, karena kondisi saya sedang bersih menuju kantor. Akhirnya si Bengkel mengambil roda serep dan memasang sebagai roda kiri belakang. Dia ...

HTC is Striving For Survive

HTC, the most popular brand from Taiwan, is struggling to survive in this competitive market of smartphone. Basically, HTC has strong experience on smartphone, due to its history on the industry. Even compare to Samsung, HTC seems has more competences. But, as we know recently, experience can not ensure the competitiveness of brand. New brand can arise dramatically, just for a while, beating the old one. Namely Xiaomi, Oppo and along others. On the other side, some old big brand really struggle to maintain their market share such as Sony, Blackberry, HTC. Some others, even disappeared from the industry, namely Nokia, Erricson. Recently, HTC tried to maintain their market share by announed newest smartphone entitled One M9. This item is successor of previous item, One M8. HTC embeded this product with latest technology and features to attract buyers. Analyst predicted, price wuold be around $694. HTC has reached peak performance in 2011, with estimated 21 million of sales and N...

Tips Sukses Sales Person

Anda dan perusahaan. Bagi perusahaan, sales person adalah ujung tombak untuk menembus pasar yang penuh persaingan Anda dan pelanggan. Saat anda berhasil membuat pelangga sebagai teman, maka anda akan mendapatkan bantuan yang dibutuhkan setiap saat Jual diri anda. setiap orang memiliki daya tarik, sales person yang pintar memanfaatkan daya tariknya untuk menarik pelanggan Puji pelanggan anda. Hanya memerlukan sedikit usaha untuk memuji pelanggan, tetapi menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar Sampaikan pesan dengan jelas. Sampaikan dan ulangi pesan anda sampai mendapat umpan balik yang benar, artinya pelangan sudah mengerti dengan baik Data pelanggan. Data membuat sales person tahu apa yang akan dilakukan. Catat data pelanggan dan simpan, tunggulah saatnya anda akan mendapat manfaat luar biasa Ucapkan terima kasih. Hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengucapkan terima kasih, pelanggan akan mengingat anda selamanya Berikan nilai lebih. Informasi yang benar tidak menimbul...

Wow Marketing

Markplus Conference 2015 By: Hermawan Kertajaya WOW Marketing A. Why E-everything Maturing democracy Marine connectivity Mental revolution Integrated market B. What Ready: E-commerce Property Logistics Transportation Hospital Automotive Aim: Banking Multi finance Pharmacitical FMCG Insurance Retail Fire Infrastructure and utilities Telecom services Media Building and contruction Rise of local leader : Indonesia wow cities 2015 Yogyakarta Surabaya Banda aceh Sleman Banyuwangi C. How Productivity: effectiveness, efficiency Attractive (aware,appeal) Coriusity (ask, appeal) Commitment (act, ask) Affinity (advocate, act) Creativity: Suitability of offering Quality of service Measurement Par (act, aware) Bar (advocate, aware)

Rumah Mewah Tidak Berarti Daya Beli Tinggi

Ada gula ada semut. Semut selalu mencari barang-barang manis. Begitulah adanya. Begitu juga para penjual. Mereka selalu mencari prospek yang manis. Prospek manis identik dengan banyak uang. Banyak uang sering identik dengan rumah mewah. Maka wajar jika penjual selalu mendatangi rumah-rumah mewah. Jika rumah anda mewah, jangan kaget kalau menjadi ladang kunjungan para penjual. Pandangan bahwa rumah mewah selalu banyak uang tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak selalu benar. Sesuai pengalaman saya di lapangan, semakin hari kesimpulan tersebut semakin tidak valid. Apalagi di kota besar seperti Jakarta, makin banyak saja saya dapatkan rumah mewah yang tidak punya uang. Boleh jadi, rumah mewah tersebut banyak uang, tapi daya belinya rendah. Atau boleh jadi daya beli tinggi, tapi kebutuhan hidupnya sudah tidak berkembang. Kenapa demikian? Ada beberapa alasan, antara lain seperti berikut. Rumah hanya menjadi obyek investasi jangka panjang. Penghuni adalah pensiunan. Penghuni adalah pen...

Tips Tingkatkan Penjualan

Kemarin saya turun ke lapangan, mengunjungi teman-teman yang sedang buka stand penjualan di berbagai lokasi. Pada acara briefing, salah seorang teman bertanya kepada saya, "Pak, bagaimana kami bisa meningkatkan penjualan?" Setelah berpikir sejenak, saya jawab pertanyaan tersebut sebagai berikut. 1. Value for money. Atau ada harga ada rupa Jangan panik, jika pelanggan membandingkan produk kita dengan pesaing yang harganya lebih murah. Avanza dijual lebih mahal dari Xenia, padahal barangnya serupa. iPhone dijual lebih mahal dari Galaxy S, padahal kualitasnya setara. Di kamar hotel Aqua dijual 15 ribu, padahal di trotoar depan ada kaki lima menjual barang yang sama dengan harga 3 ribu. Reputasi penjual kadang dihargai lebih mahal dari produknya. Karena seringkali pelanggan memang ingin membeli reputasi penjualnya. Reputasi berarti sejarah, pengalaman, nama baik, jaminan dan kepercayaan. 2. Tambahkan nilai emosional Survey global menyimpulkan bahwa 50% pembeli melakukan tr...

Youth Marketing

Learned from SmartFM about Youth Marketing. 1. Below the line was changed to grass root marketing 2. Anda tidak bisa hanya fokus kepada brand, fokuslah kepada pelanggan 3. Anda tidak bisa hanya percayakan kepada konsultan, anda harus terlibat dalam komunitas remaja 4. Larut dalam komunitas mereka, jangan ekspos ke media, biarkan mereka yang melakukannya.