Setiap agama mendefinisikan Tuhannya masing-masing. Masing-masing agama membuat klaim, Tuhannya paling benar dan patut disembah, sedangkan Tuhan yang lain adalah palsu. Sementara di dalam agama itu sendiri, seringkali juga ada mazhab atau aliran yang berbeda-beda dalam mendefinisikan Tuhan. Bahkan, jika ditanya perihal definisi Tuhan kepada setiap pemeluk agama, mungkin kita akan mendapatkan jawaban yang berbeda sebanyak jumlah orang yang ditanya. Klik dan baca artikel saya lainnya, Pandangan Tuhan menurut Agama Dunia.
Maka tidak heran, jika banyak orang menanyakan, jika Tuhan Esa, kenapa setiap orang mempunyai definisi yang berbeda-beda?
Manusia Hidup dalam Dimensi Ruang dan Waktu.
Manusia diciptakan dan hidup dalam dimensi ruang dan waktu. Sementara Tuhan berada di luar dimensi ruang dan waktu, karena Tuhan itu sendiri yang menciptakan ruang dan waktu. Lantas, seperti apakah dimensi Tuhan? tidak mungkin terbayang oleh manusia, karena diluar jangkauan akal dan ilmu manusia. Hal ini sejalan dengan ayat Al-Quran Asy-Syura (42) : 11, yang artinya "... Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia....".
Bagai seorang cabang bayi yang masih berada dalam kandungan ibunya, diceritakan sejelas apa pun tentang dunia dan isinya, tetap saja dia tidak akan pernah bisa membayangkan apalagi memahaminya.
Al-Quran menyebut sebanyak tujuh kali tentang Allah beristiwa di atas Arasy, salah satunya pada QS Al-A'raf (7) : 54, yang artinya "...Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy...". Lantas, di manakah Arasy? jawabannya, manusia tidak mungkin memahaminya, karena alam dan dimensi Tuhan berbeda dan tidak terjangkau oleh ilmu dan akal manusia.
Imajinasi Permanen
Karena Tuhan tidak terjangkau oleh akal dan ilmu manusia, maka selamanya akan menjadi imajinasi bagi setiap manusia. Setiap manusia dapat berimajinasi sesuai kadar ilmu dan pengalaman spiritualnya. Ketika ilmu dan pengalaman spiritualnya berkembang, maka imajinasinya pun akan terus berkembang, maka pemahaman tentang Tuhan pun turut berkembang.
Utusan Tuhan
Meski keberadaan Tuhan diluar jangkauan akal dan ilmu manusia, setidaknya ada sebagian manusia, yang biasa kita sebut Nabi dan Rosul, yang telah menerima penjelasan dari para utusan Tuhan atau malaikat, tentang keberadaan Tuhan. Al-Quran menjelaskan salah satu kisah ini pada surat Al-A'raf (7) : 143, yang artinya, "...Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau...". Kisah Nabi Musa ini menunjukkan bahwa Nabi telah menerima penjelasan tentang keberadaan Tuhan, meski tidak berarti Nabi dapat memahami seluruh hakikat Tuhan, namun setidaknya pada sebagian hal kita dapat belajar darinya, dan menyisakan sebagian yang lain tetap menjadi imajinasi yang sudah tentu berbeda antara satu orang dengan lainnya.
Komentar
Posting Komentar