Doa Pembuka
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ .اَللّٰهُمَّ افْتَحْ لَنَا حِكْمَتَكَ، وَانْشُرْ عَلَيْنَا مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Allah Swt berfirman dalam surat Al-Baqarah 201:
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Diantara mereka ada juga yang berdoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab nereka"
Tahukah kalian, apa tujuan hidup kita menurut al-quran? Tujuan hidup kita adalah memperoleh kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Sebagaimana doa yang selalu kita panjatkan setiap hari, paling tidak 5 kali dalam sehari.
Kita perlu tegaskan kembali, bahwa kebaikan hidup tidak hanya melulu di akhirat, namun juga di dunia. Rosul Saw juga telah menunjukkan hal tersebut. Di masa kecil, beliau menjadi pengembala kambing. Di masa remaja beliau berdagang. Di masa tua beliau berperang, dan dimasa senjanya beliau menjadi kepala pemerintahan, yang bertanggung jawab terhadap kehidupan rakyat dan terutama para tentaranya. Rosul Saw tidak berpangku tangan dan menantikan kehidupan yang baik di akhirat.
Apakah kita boleh meninggalkan dunia dan hanya mementingkan akhirat? boleh saja, jika anda memang siap. Nabi Isa dan Yahya As, beliau hidup bersahaja, meninggalkan dunia. Beliau hidup apa adanya, sering minum air kali dan bahkan makan rumput. Namun perlu di catat, beliau hidup sendiri tanpa istri maupun anak, dan juga tidak punya rakyat yang menggantungkan hidup kepada dirinya. Begitu juga para ahli tawasuf yang hidup berasyik masyuk dengan Tuhan, meninggalkan dunia dan seluruh isinya.
Nah, apakah kita termasuk golongan yang demikian? tentu saja tidak. Hampir semua dari kita mempunya istri, anak, saudara, yang menggantungkan hidup dari kita. Sementara kehidupan di sekitar kita juga tidak pernah lepas dari kebutuhan dunia, semakin lama kehidupan di lingkungan kita semakin keras.
Anak muda bilang, "tidak segalanya perlu uang, tapi tanpa uang tidak bisa melakukan segalanya". Dari menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, hidup kita selalu menyedot uang. Listrik, air, yang kita pakai semuanya membutuhkan uang.
Cara pandang kita yang menganggap dunia tidak penting, sadar atau tidak sadar telah membuat sebagian besar dari kita menjadi malas, daya juang rendah, banyak alasan untuk bekerja keras. Akibatnya, budaya menerima lebih akrab dengan kita, sedangkan budaya memberi terasa jauh dari kita. Kita lebih suka menerima sumbangan daripada memberi sumbangan. Wajar, jika negara kita terlambat dan kalah maju dari negara-negara tetangga. Perkapita rakyat Indonesia berada di nomor 100-120 di dunia.
Sudah waktunya bagi kita untuk mengubah cara pandang, bahwa kita harus berjuang untuk menggapai kebaikan di dunia dan akhirat. Perjuangan kita seharusnya lebih besar dari pada orang yang tidak beragama. Karena mereka hanya berjuang untuk dunia, sedangkan kita berjuang untuk dunia dan akhirat. Jadi tidak ada kamus malas dan menerima nasib, kita perlu berjuang maksimal untuk mengubah nasib dan menggapai kebaikan dunia dan akhirat.
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka...(Ar-Ra'd: 11)
Kunci Mengapai Kesuksesan Dunia
Lalu, apa yang perlu kita lakukan untuk mencapai kesuksesan di dunia? Banyak tokoh agama maupun pakar bisnis yang telah menyampaikan kunci-kunci meraih kesuksesan dunia. Secara umum, tip dan trik yang mereka sampaikan adalah benar. Namun efektifitas tentu bergantung kepada situasi dan kondisi kita sendiri dalam menjalankannya. Tidak ada kunci terbaik, yang ada adalah kunci yang efektif bagi kita sendiri. Oleh karenanya, kita tidak perlu menguasai dan menjalankan semua kunci yang disampaikan para pakar, cukuplah fokus kepada beberapa kunci yang relevan dan sesuai dengan situasi dan kondisinya.
Berikut disampaikan kunci sukses dunia, yang kami sebut 4+1, yaitu meliputi: Ilmu, Karya, Karakter, Silaturahmi dan Takdir. Di bawah ini dijelaskan masing-masing 4+1.
Ilmu
Sumber dari segala sumber keterbelakangan ekonomi, kemerosotan moral, kejahatan adalah keterbelakangan ilmu. Di mana pun tempat di muka bumi, dimana masyarakatnya malas menuntut ilmu, masyarakat bodoh, maka di situlah akan tumbuh keterbelakangan, kejahatan dan kemiskinan. Sebaliknya, dimana suatu daerah, yang mana masyakatnya giat menuntut ilmu, maka masyarakat tersebut akan maju dan sejahtera.
Seorang muslim bermimpi menggapai kebaikan dunia dan akhirat, karenanya, masyarakat muslim dituntut untuk menuntut ilmu, tidak hanya ilmu agama tapi juga ilmu dunia. Tanpa ilmu agama kita akan tersesat, demikian juga tanpa ilmu dunia kita akan melarat.
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
"Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat" (Al-Mujadalah: 11).
Komentar
Posting Komentar