Skip to main content

Beda Lebaran Simbol Perpecahan Pemimpin Islam

Senin (29/8) sore kami sekeluarga sampai di Pekalongan, kampung halaman dan tempat bermain semasa kecil. Hari itu merupakan hari indah bagi keluarga meskipun sebenarnya kami melewati perjalanan mudik yang sungguh luar biasa beratnya. Sewaktu buka puasa ibu menyiapkan lontong opor dan di atas lemari telah bertumpuk ratusan lontong dan ketupat. Kutanya pada ibu, "kok lontongnya banyak sekali, kalau lebaranya rabu gimana?". Spontan ibu menjawab dengan ketus "nggak mau. lebaran harus besok!". Pukul 20.00 wib kami menyaksikan di TV, Menteri Agama memimpin sidang itsbat dan memutuskan lebaran jatuh pada hari rabu. Kulirik ibu sambil tersenyum, sayang ibu justru membalas senyum dengan wajah amat masam tanda kekecewaan yang mendalam. Cerita belum berhenti, karena pagi harinya kami sekeluarga harus menelpon mertua di Jogja yang telah melaksanakan sholat ied di alun-alun kidul.


Kisah serupa pasti dialami oleh ribuan keluarga di negeri ini. Betapa kecewanya mereka, setelah melewati mudik yang berat dan berharap suasana lebaran yang indah, ternyata ternodainya oleh ketidakkompakan pemimpin ormas islam. Namun, apa mau dikata, rakyat telah cukup dewasa menyikapi polah dan karakter pimpinan negeri ini.


Muhammadiyah menetapkan lebaran pada hari selasa (30/8), sementara Pemerintah bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan ormas lain menetapan lebaran pada hari rabu (31/8). Keputusan Muhammadiyah sesuai dengan metode yang mereka pergunakan yaitu hisab, sementara NU menggunakan metode rukyat. Perbedaan metode ini telah mengakibatkan beda lebaran sejak puluhan tahun yang lalu. Tanpa adanya kemauan untuk bersatu, bisa saja perbedaan ini bakal terpelihara sampai kiamat nanti.


Kenapa perlu menyatukan lebaran? Paling tidak ada beberapa alasan. Pertama, lebaran telah menjadi bagian dari tradisi bangsa, bukan lagi domain islam semata. Tradisi lebaran di Indonesia merupakan tradisi lokal yang unik dan tidak duanya di negara lain. Tradisi lebaran telah menyeret tradisi mudik yang dahsyat, tradisi sowan, reuni dan halal bi halal, membentuk pola konsumsi spesifik, mengangkat ekonomi daerah urban, mempengaruhi dunia industri dan seterusnya. Bahkan lebaran tidak lagi menjadi milik muslim, namun telah berpengaruh luas terhadap kehidupan non muslim. Karena dampaknya yang luas, lebaran juga selalu menyita perhatian Departemen Perhubungan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Industri dan Perdagangan, serta Departemen Perekonomian.


Kedua, perbedaan khilafiyah tidak semestinya memisahkan umat secara luas. Sejarah islam dunia telah menunjukkan, betapa perbedaan khilafiyah telah meruntuhkan persatuan muslim dunia sampai hari ini. Saking parahnya perpecahan muslim saat ini, rasanya tidak ada satu orang pun yang berani bermimpi untuk membangun persatuan dan ukhuwah islamiyah. Semua pasrah dan akhirnya asyik dengan firqoh-nya masing-masing, hingga lupa pentingnya persatuan islam global. Di Indonesia sendiri perseturuan Muhammadiyah versus NU sempat kita rasakan getirnya di era sebelum tahun 1990-an. Generasi orang tua kami sempat mengharamkan anak laki mereka menikahi perempuan Muhammadiyah. Aksi lempar batu juga sempat kami lakukan semasa kecil di perkampungan Pekalongan. Alhamdulillah generasi baru Muhammadiyah dan NU telah cukup toleran. Sudah biasa kita saksikan pengikut Muhammadiyah menjadi makmum sholat subuh di masjid NU yang berqunut, bahkan mereka mengikuti tahlilan dan sholawatan. Sebaliknya pengikut NU juga sudah terbiasa dengan jum’atan satu adzan dan tarawih delapan rakaat. Kita menyayangkan, kecenderungan toleransi yang makin baik di tingkat grassroot, belum bisa diikuti oleh elit, khususnya dalam penentuan hari lebaran. Perbedaan lebaran sedikit banyak pasti menjadi batu sandungan bagi upaya rekonsiliasi umat.


Mungkinkah lebaran disatukan? Pasti mungkin, karena banyak celah yang bisa diupayakan. Pertama, karena lebaran menyangkut kehidupan bangsa yang sangat luas, semestinya penentuan hari lebaran menjadi otoritas Pemerintah, dan seharusnya semua ormas tinggal mengikuti saja, tidak perlu membuat tandingan. Pak Kyai berpesan "Mengikuti pemimpin dholim masih lebih baik daripada tidak mempunyai pemimpin". Jika memang demikian, ketaatan mengikuti Keputusan Pemerintah adalah wajib, tidak terkecuali bagi ormas islam. Kebiasaan menolak Keputusan Pemerintah semestinya tidak diteruskan lagi.


Kedua, menunaikan hasil ijtihad bukanlah harga mati. Pak Kyai mengajari kami, "Ijtihad yang benar berpahala dua, dan yang salah berpahala satu". Lebih lanjut beliau mengajari "Taraweh delapan rakaat atau dua puluh rakaat sama benarnya, yang salah adalah yang tidak taraweh". Jika ijtihad memang bisa dinomorduakan dengan pertimbangan maslahah yang lebih luas, seharusnya hisab dan rukyat pun bisa disimpan untuk persatuan umat yang lebih luas.


Ketiga, kesepakatan kriteria hilal. Seperti direkomendasikan Prof Thomas kepada ANTARA (24/8), sebenarnya kubu hisab dan hilal masih bisa dipertemukan, bilamana mereka menyepakati kriteria hilal. Dengan kesepakatan kriteria hilal, lebaran tahun ini bisa disatukan.


Keempat, adopsi ilmu pengetahuan terkini. Bulan ini diberitakan NASA sedang mengusulkan anggaran US$ 8.7 miliar untuk pembuatan James Webb Space Telescope (JWST), sebuah teleskop yang diklaim mampu melihat planet di bintang lain. Mendengar berita ini, sepantasnya umat muslim malu, karena disaat non-muslim mencapai perkembangan ilmu pengetahuan yang demikian maju, umat muslim Indonesia justru bertikai hanya karena urusan melihat hilal.



Celah untuk menyatukan lebaran tidak hanya empat seperti disebut di atas, masih banyak hal yang bisa ditulis. Tapi cukuplah sekian, karena tulisan ini bukan untuk pencerahan apalagi mengajari, namun sekedar untuk meyakinkan para pemimpin, khususnya ormas islam, bahwasanya persatuan menjadi dambaan umat, lebih-lebih persatuan hari lebaran. Perbedaan lebaran sesungguhnya menjadi simbol keangkuhan pemimpin umat karena ngotot dengan ijtihad-nya sendiri dan tidak legowo mengikuti Keputusan Pemerintah. Perbedaan lebaran juga menjadi simbol perpecahan pemimpin islam, atau paling tidak bibit perpecahan, karena mereka terbukti tidak mampu berkomunikasi, dan menjadikan ormas lain sebagai imam bagi dirinya dan atau sebaliknya. Semua celah dan tulisan ini tiada makna, karena semuanya akan berujung kepada kearifan pemimpin umat, yaitu bersediakah mereka berkompromi demi persatuan umat dan keindahan momen lebaran. Semoga kita semua sadar, bahwasanya persatuan hari lebaran menjadi bagian penting dari upaya untuk membangun persatuan umat yang sedang terkoyak saat ini.

Comments

Popular posts from this blog

Ayat-Ayat Al-Quran Tentang TAKDIR

***57:22***   22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. ***6:59***   59. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" ***3:154***   154. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu [241], sedang segolongan lagi [242] telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah [243]. Mereka berkata: "Apakah ada ba

The 360 Leader - John C Maxwell

Hampir semua pemimpin memiliki pimpinan yang lebih tinggi. Bolehlah dibilang, tidak ada pemimpin yang tidak memiliki pemimpin diatasnya. Karenanya, buku The 360 Leader karangan John C. Maxwell ini sejatinya adalah untuk semua pemimpin, bukan hanya untuk para manajer yang selalu berada di bawah para pemilik perusahaan. Pun demikian, penjelasan buku ini memang lebih difokuskan kepada para manajer, senior manajer dan para pemimpin sejenis dalam perusahaan yang berada di bawah kepemimpinan orang-orang di atasnya. Buku setebal 400 halaman ini mengawali penjelasanya dengan 7 mitos tentang memimpin dari bagian tengah. Berikutnya menjelaskan tantangan yang dihadapi pemimpin 360 Derajat. Pada bagian ketiga dijelaskan bagaimana memimpin ke atas. Bagian keempat dan kelima menjelaskan praktik memimpin ke samping dan ke bawah. Pada bagian akhir dijelaskan nilai-nilai pemimpin 360 Derajat. Prinsip utama dari kepemimpinan 360 derajat adalah bahwa pemimpin bukanlah posisi, melainkan pe

Empat Komponen Manusia

Banyak referensi tentang kehidupan manusia telah saya pelajari, khususnya dari buku-buku tasawuf. Sejauh ini saya pahami bahwa manusia memiliki tiga komponen yang tidak terpisahkan, yaitu fisik, akal dan ruh. Alhamdulillah, pada renungan saya di segmen terakhir bulan ramadhan 1432 H ini, terbuka pemahaman baru mengenai komponen pembentuk manusia. Tentu saya meyakini kebenaran pemahaman ini, tapi bagaimana pun saya tetap membuka kemungkinan adanya pemahaman yang lebih baik. Manusia terbentuk dari empat bagian atau komponen yang tidak terpisahkan, yaitu: Pertama, Fisik atau jasad. Inilah bagian paling mudah dikenali. Fisik merupakan komponen utama dari semua makhluk di bumi ini. Melalui fisik inilah keberadaan makhluk di bumi dapat dilihat, dirasa dan dikenali. Karena komponen fisik ada di seluruh makhluk bumi, baik makhluk hidup maupun mati, maka tingkatan fisik merupakan tingkatan terendah, setara dengan tingkatan tumbuhan, hewan, tanah dan seterusnya. Kedua, Nyawa at